Make your own free website on Tripod.com
Selamat Datang di Alam Nyata                                   
Republika, 12 Oktober 1998


Menyaksikan dari jauh Kongres V PDI di Bali (8-10/10/98), saya segera teringat pada Lewis Cosser, seorang sosiolog ternama. Salah satu hal yang membuat Cosser ternama adalah teorinya tentang konflik fungsional positif dan negatif.                                       

Jika sebuah kelompok berhadapan dengan musuh bersama yang konkret, tulis Cosser maka soliditas politik di dalam kelompok itu akan terbangun sementara konflik-konflik politik terlupakan. Ketika musuh bersama bagi kelompok itu mulai mengabur, maka soliditas kelompok itu merapuh dan konflik-konflik internal akan mencuat tanpa tertahan. Ketika musuh bersama masih konkret, konflik menjadi fungsional positif bagi kelompok itu; dan ketika musuh itu mengabur jadilah konflik fungsional negatif bagi kelompok.                                     

Hiruk pikuk Kongres Bali boleh jadi menandai pergeseran situasi konflik fungsional positif menjadi negatif dalam tubuh PDI. Kongres itu diadakan di tengah terjadinya perubahan strategi perlakuan pemerintah terhadap Megawati dan PDI Perjuangan-nya. Dalam satu bulan terakhir pemerintah mengambil langkah-langkah lebih akomodatif terhadap PDI dan dengan itu mengaburkan sosoknya sebagai musuh bersama PDI. Maka bersamaan dengan itu potensi-potensi konflik internal PDI bakal menemukan lahan yang subur untuk meletup satu per satu. Ada beberapa sumber konflik yang sudah bisa dibayangkan sekarang. Pertama, berubahnya aktor utama dalam partai pasca-Kongres.     

Dalam dua tahun terakhir, aktor utama di belakang perlawanan politik Megawati adalah para gerilyawan partai -- untuk mudahnya kita sebut saja demikian. Semenjak Megawati dikudeta oleh aliansi pemerintah dan Kelompok Soerjadi pada akhir Juni 1996, para gerilyawan partailah yang tampil ke depan dan berjasa sangat besar dalam mempertahankan eksistensi partai selama dua tahun terakhir. Sementara itu, para aktivis formal partai kehilangan peluang untuk bekerja secara efektif.

Sekat yang memisahkan para gerilyawan dan para aktivis formal partai seolah-olah hilang selama PDI disibukkan oleh konflik eksternal vis a vis pemerintah. Kongres Bali bakal menandai kembali tegasnya sekat itu. Sebab terpentingnya: perubahan aktor utama dalam partai, struktur kepengurusan hasil Kongres, bisa dipastikan, akan sedikit sekali -- bahkan boleh jadi tidak akan -- mengakomodasi para gerilyawan dan sebaliknya memberi tempat sangat lapang bagi aktivis   formal partai. Inilah bara api konflik yang tidak akan padam di Bali dan bisa menyala lebih besar pasca-Kongres Bali.                      

Kedua, polarisasi pasca-kompromi-semu. DPP PDI Perjuangan yang terbentuk pada Munas Jakarta akhir Desember 1993 adalah hasil kompromi semu. Semua kelompok politik - kecuali faksi Yusuf Merukh - diakomodasi untuk memadamkan konflik yang tengah berkobar waktu itu. Semua titipan diterima Megawati waktu itu, termasuk titipan ''arus atas'' melalui Mayjen TNI (waktu itu) Hendropriyono dan Brigjen TNI (waktu itu) Agum Gumelar.                                             

Rumus kompromi semu itulah yang melatari konflik Juni 1996 yang melahirkan PDI tandingan di bawah Soerjadi. Namun konflik Soerjadi - Megawati mesti dipahami sebagai ledakan Tahap I sebab rumus kompromi semu itu berlanjut pasca-pengkhianatan Soerjadi cs. Kongres Bali adalah saat ledakan Tahap II akan mulai terdengar. Polarisasi antarfaksi -- yang dalam dua tahun terakhir tersembunyi di balik semangat rawe-rawe rantas malang-malang putung -- akan mulai    mengedepan dan menjanjikan konflik yang bisa jadi eksplosif.          

Ketiga, eksperimen ''Golkarisasi'' PDI. Dalam setahun terakhir  sosok PDI makin mirip Golkar dalam hal kemajemukan kelompok-kelompok pendukungnya. Di tengah euforia reformasi, belakangan eksperimen ''Golkarisasi'' itu makin menggejala. Masuknya sejumlah perwira -- termasuk beberapa purnawirawan perwira tinggi -- adalah penegas yang terang benderang mengenai menggejalanya eksperimen itu.               

Eksperimen itu tentu bukan tanpa biaya. Masuknya elemen-elemen baru ke dalam PDI di atas permukaan boleh jadi seolah-olah memperkuat, tetapi secara riil politik justru menimbulkan persoalan-persoalan baru. Faksionalisme menjadi lebih rumit dan di atas itu berdiri  ancaman-ancaman konflik baru. Perdebatan di Bali tentang berhak tidaknya ''para pemain baru'' partai langsung duduk di kepengurusan partai adalah bentuk artikulasi konflik dari eksperimen ''Golkarisasi'' itu. Bentuk-bentuk artikulasi lain saat ini sedang antre untuk memperoleh giliran meletup.                               

Keempat, pertarungan klasik masa lalu versus masa kini. Kepemimpinan Megawati ada di garis batas masa lampau dan masa kini partai. Unsur-unsur masa lampau termasuk deklarator fusi dan pendiri  PDI (1973) masih ada. Di saat sama selama lima tahun terakhir arus masuk pemain baru partai mengalir dengan deras, tertarik oleh medan magnet milik Megawati. Pertemuan antara pemain masa lampau dan masa kini sekarang bermetamorfosis menjadi suasana konfliktual. Perdebatan tentang perlu tidaknya lambang partai, nama partai, dan AD-ART partai, diubah adalah manifestasi dari suasana konfliktual itu.               

Begitulah. Musuh bersama mengabur dan PDI menjadi sibuk dengan urusan dapur. Sekali lagi sambil mengingat Cosser, ketika musuh bersama hilang maka sebuah kelompok bakal terbangun dari mimpi-mimpi tentang kebersamaan yang romantis dan tersentak oleh kenyatan yang carut-marut. Dan banyak yang ternyata gagal melewati suasana berubah mendadak dari mimpi ke alam nyata.                                    

Eksperimen Demokrasi Terpimpin Soekarno -- dengan jargon-jargon 'revolusi belum selesai'-- yang gagal adalah salah satu contohnya. Romantisme revolusi menjadi hambar ketika musuh bersama bangsa makin mengabur. Ketika Soekarno bertahan dengan mimpi romantisme itu, ia perlahan tapi pasti menggali lubang kubur sendiri.                    

Cerita semacam itulah yang saat ini tengah menimpa barisan oposisi politik dan gerakan mahasiswa. Setelah musuh bersama barisan oposisi dan mahasiswa -- yakni Soeharto -- hilang, kebersamaan yang romantis berakhir dan mulai periode redisintegrasi dan refragmentasi. Konflik  vertikal berubah dengan cepat menjadi bara konflik-konflik internal. Sejarah mencatat bahwa ketika suasana mimpi kebersamaan berakhir, ketidaktertataan segera mengemuka karena satu sebab penting. Hampir semua pihak tidak siap untuk menjadi pemenang yang baik atau pecundang yang baik. Inilah yang justru sekarang menjadi ancaman riil PDI Perjuangan selepas romantisme kebersamaan yang memabukkan mereka jalani selama dua tahun terakhir.                                     

Untungnya PDI memiliki Megawati. Mega ada di titik netral sehingga ia akan lebih mudah memposisikan diri dalam struktur konflik yang merumit pasca-Kongres Bali. Yang mencemaskan, kepemimpinan Megawati selama ini belum membuktikan kemampuan manajerialnya yang tangguh dalam mengelola partai di tengah suasana normal.                                      

Pendeknya Mega adalah kelebihan sekaligus - boleh jadi - kekurangan PDI. Bagaimanapun saya ikut bersyukur bahwa Kongres Bali berlangsung dengan selamat. Dan ucapan syukur yang tepat saya sampaikan ke Mbak Mega adalah: Selamat datang di alam nyata.