Make your own free website on Tripod.com
Membayangkan
Koalisi Amien-Mega
Amanat, 27 Oktober 1998



Terbukti sudah bahwa Dr M Amien Rais adalah pabrik kejutan politik. Terakhir, dalam rentang waktu pendek -- kurang dari satu bulan -- Amien membuat dua kejutan sekaligus. Pada minggu pertama Oktober, ia mengajak Megawati berdebat di depan publik untuk membuktikan siapa yang lebih pantas menjadi calon presiden. Minggu ketiga Oktober, Amien justru mengajak PDI Perjuangan-nya Megawati (bersama PKB) berkoalisi.

Bagaimanakah kita memaknai ajakan koalisi Mega-Amien itu? Mudahkah koalisi antardua kubu politik oposisi besar itu dibayangkan -- ya, bahkan sekadar dibayangkan?

Ajakan berkoalisi yang diajukan Amien pada Mega hanya dapat dipahami dengan mempertimbangkan karakter politik Amien. Setelah melewati beberapa periode perjalanan politik -- dari intelektual, politisi-moralis, dan pemimpin partai politik -- tampaknya ada sesuatu yang tidak berubah pada Amien. Amien tetap seperti seorang "koki masakan Jepang". Ia menyajikan banyak menu politik secara spontan dan senang menghidangkan makanan setengah mentah, bahkan mentah.

Amien sebagai seorang "koki makanan Jepang" itulah yang kita saksikan ketika ia mengajak Mega berdebat. Dalam posisi itulah mestinya kita memahami ajakan koalisi Amien pada Mega.

Ajakan debat Amien adalah sebuah tontonan spontanitas seorang penghidang "makanan setengah mentah". Saya khawatir, ketika Amien mengajak Mega berdebat ia keliru menilai bahwa publik Mega dan publiknya memiliki karakter politik sejenis. Padahal, menurut hemat saya, publik Amien lebih kuat karakter rasionalitas politiknya ketimbang publik Mega. Maka ketika Amien dan Mega muncul di forum debat, jangan-jangan Amien tidak memperoleh apapun dari perdebatan itu.

Di depan publiknya sendiri, Amien tidak perlu membuktikan lagi bahwa ia lebih siap secara konseptual ketimbang Mega. Publik Amien sudah tahu persis soal itu. Sebaliknya, di depan publik Mega -- dan umumnya publik penonton debat Amien-Mega -- yang tampil adalah peperangan simbolik. Mega mewakili simbol rakyat yang selalu ditindas, hendak terus dikalahkan oleh kekuasaan, dan menimbulkan simpati-emosional. Sementara Amien mewakili simbol kegagahan, kemenangan, yang menimbulkan salah sangka tentang arogansi. Maka debat Amien-Mega di mata publik Mega dan publik awam boleh jadi akan tampil sebagai pertarungan antara si arogan vesus si tertindas yang mengundang simpati emosional. Kemenangan moral dan politik boleh jadi akan otomatis ada di pihak kedua.

Ajakan debat yang diajukan Amien pada Mega pun, menurut saya, adalah sebuah spontanitas makanan setengah mentah yang sangat boleh jadi menjadi bumerang. Ajakan debat itu tak akan mendatangkan keuntungan moral dan politik apa pun bagi Amien. Jika Mega tak menanggapi -- artinya Amien digratisisn -- maka Mega seolah-olah dingin, bijak, dan tak terpancing. Dan jika debat jadi dilakukan dengan kemenangan-konsep pada Amien, tetap saja Mega yang akan memperoleh simpati publik. Bahkan citra Amien sang arogan dan Mega sang tertindas akan semakin memperoleh verifikasi.

Dengan cara pandang seperti itulah saya memahami ajakan koalisi Amien pada Mega. Inilah spontanitas seorang koki makanan Jepang yang senang menghidangkan menu politik mentah. Ajakan itu tidak akan mendatangkan hasil pada tingkat citra moral maupun capaian politik konkret. Amien hanya menyorongkan ke khalayak sesuatu yang bakal dikonsensuskan sebagai -- meminjam terminologi Asmuni Srimulat -- "hil yang mustahal".

Ada setidaknya tiga tingkat kesulitan yang menghadang kemungkinan koalisi itu. Pertama, kesulitan di tingkat wacana. Wacana milik Amien dan Mega -- dalam batas tertentu -- menunjukkan perbedaan yang kontras. Ketika Amien menawarkan federalisme sebagai wacana alternatif, Mega menyatakan bahwa bentuk negara kesatuan adalah harga mati. Ketika Amien menggulirkan wacana antimiliterisme, Mega mendeklarasikan bahwa peran politik militer dalam kerangka dwifungsi ABRI adalah sebuah kebutuhan mutlak. Sulit sekali membayangkan di antara Mega dan Amien bisa terjalin aliansi wacana.

Kedua, kesulitan di tingkat politik. Basis politik Amien dan Mega berada dalam sekat yang berbeda. Benar bahwa baik Amien maupun Mega hendak menjalankan eksperimen pluralisme a la Golkar, namun pluralisme a la Amien dan a la Mega terbentuk oleh bahan baku politik yang berbeda. Maka sulit membayangkan Amien dan Mega bisa membangun negosiasi dan menjalin kompromi politik dengan basis politik mereka yang sudah berbeda.

Ketiga, kesulitan di tingkat ideologis. Amien dan Mega memiliki platform ideologi yang tampaknya berbeda. Mega membangun kekuatan politik pertama-tama di atas basis populisme-nasionalis-sekuler, sementara Amien membangun kekuatannya pertama-tama di atas basis pluralisme dan insklusivisme religius. Agak sulit membayangkan keduanya melakukan aliansi di tingkat ideologis; kecuali sebuah aliansi yang dipaksakan.

Dengan mempertimbangkan tiga tingkat kesulitan di atas, maka lebih realistis membayangkan koalisi Amien-Mega sebagai sebuah "koalisi wahana" belaka -- bukan koalisi wacana, politik, apalagi ideologi. Sebuah koalisi wahana biasanya memang mungkin untuk dibangun dengan target-target jangka pendek, sesaat, dan ad hoc. Karena itu, sebuah koalisi wahana biasanya memiliki basis politik yang rapuh. Koalisi seperti ini bisa saja efektif untuk keperluan penggalangan politik, namun jangan rentang bagi tujuan pendidikan politik.

Dalam konteks itu, menurut hemat saya, adalah lebih produktif manakala Amien lebih mengkonsentrasikan diri pada upaya membangun gerakan politik substantif untuk menyiapkan daya kompetisi politik bagi kekuatan ang sedang ia bangun. Adalah lebih produktif pula jika Amien lebih memfokuskan diri pada upaya-upaya serius untuk mengelola ekserimen pluralismenya.

Spontanitas demi spontanitas Amien -- apalagi dalam kerangka menghidangkan makanan mentah atau setengah mentah -- jelas lebih rendah maknanya ketimbang pembangunan gerakan dan pengelolaan pluralisme itu. Sementara itu, adalah lebih bermakna bagi Megawati manakala ia lebih mengkonsentrasikan diri pada upaya memperbaiki wacananya yang masih compang-camping.

Condet dan Depok, 27 Oktober 1998