Makalah
Search this site or the web powered by FreeFind

Site search Web search
Foto: New York Times


DIHITUNG SEJAK suksesi dari Soeharto ke Habibie, sudah lebih dari tiga tahun Indonesia menjalani transisi dari otoritarianisme. Selama masa itu, terbuktilah bahwa transisi dari sistem otoritarian yang sudah tertanam terlampau lama dan dalam adalah transisi yang tidak mungkin sebentar, sederhana, dan mudah. Tidak hanya itu, hingga hari ini tidak ada yang bisa memberikan garansi bahwa transisi ini memang akan benar-benar sukses membentuk Indonesia baru yang demokratis.

Boleh jadi, selama masa lebih dari tiga tahun itu, banyak rincian pekerjaan transisional yang sepertinya sudah diselesaikan. Misalnya saja: amandemen atas sederetan pasal dan ayat UUD, revisi sejumlah UU lama dan pembuatan puluhan UU baru, pendirian lebih dari seratus partai, pemilihan umum, pembentukan pemerintahan(-pemerintahan) baru, pergantian kabinet demi pergantian kabinet, pengembangbiakan jumlah media massa dalam suasana kebebasan pers yang baru, dan lain-lain. Tetapi, jangan lupa, bahwa kadangkala kesibukan dengan pekerjaan-pekerjaan rinci yang berjumlah besar semacam itu justru makin menjauhkan transisi dari arah dan tujuan asalinya untuk membangun kehidupan baru yang lebih demokratis. Di sini, kita berhadapan dengan sebuah jebakan yang dirumuskan dengan baik oleh Nelson Mandela dalam otobiografinya yang sangat inspiratif, Long Walk to Freedom (1995): “Keagungan suatu peristiwa hilang tenggelam di dalam ribuan perincian kecil.”

Maka mau tak mau, salah satu pekerjaan besar sepanjang fase transisi yang sulit -- yang celakanya kerap dilupakan banyak aktor transisi -- adalah selalu melengkapi kegiatan “aksi” dan “reaksi” dengan “kontemplasi”. Tanpa kemauan berkontemplasi, sangat boleh jadi kita kehilangan kesadaran bahwa transisi menuju demokrasi sebetulnya sedang dibajak diam-diam ke arah rekonsolidasi otoritarianisme.

Menurut hemat saya, atas nama kebutuhan kontemplasi itulah diperlukan catatan dan refleksi yang jujur tentang perkembangan demi perkembangan selama fase transisi. Dengan segenap kerendahan hati, makalah-makalah di sini disajikan untuk ikut jadi bahan catatan dan refleksi semacam itu.

[Lihat Daftar Makalah]